Bobon Santoso Jual YouTube Rp20 Miliar karena Lelah

Nama Bobon Santoso sudah lama dikenal sebagai salah satu kreator konten kuliner paling unik di Indonesia. Sosoknya identik dengan porsi masakan jumbo, konsep memasak dalam skala besar, serta aksi sosial yang menyentuh masyarakat luas. Di tengah tren konten instan dan hiburan cepat, Bobon tampil berbeda: memasak dalam jumlah ekstrem, membagikannya secara gratis, dan menghadirkan tontonan yang bukan hanya mengenyangkan mata, tetapi juga bermakna.

Namun belakangan, publik dikejutkan dengan kabar bahwa Bobon berencana menjual kanal YouTube miliknya dengan nilai fantastis, sekitar Rp20 miliar. Keputusan ini disebut berkaitan dengan keinginannya untuk vakum dari dunia YouTube. Alasannya sederhana tetapi berat: ia merasa terlalu lelah. Konten yang ia produksi membutuhkan effort besar baik dari segi waktu, tenaga, maupun biaya produksi. Di sisi lain, ia merasa kalah bersaing dengan fenomena “clipper”, yaitu akun-akun yang mengunggah ulang potongan videonya dalam format pendek dan justru meraih jutaan penonton dengan usaha jauh lebih kecil.           

Latar Belakang Bobon Santoso

Bobon bukan sekadar konten kreator yang mengejar sensasi. Perjalanan kariernya dibangun dari konsistensi dan diferensiasi. Ketika banyak kreator kuliner fokus pada review makanan atau mukbang, Bobon memilih jalur berbeda: memasak dalam jumlah besar, sering kali untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Ciri khasnya adalah skala. Ia pernah memasak ratusan hingga ribuan porsi makanan dalam satu sesi. Prosesnya panjang mulai dari belanja bahan dalam jumlah besar, menyiapkan alat masak berukuran raksasa, melibatkan tim produksi, hingga distribusi makanan kepada warga. Setiap video bukan hanya tentang memasak, tetapi tentang logistik, koordinasi, dan manajemen.

Konten seperti ini tentu bukan pekerjaan ringan. Dibutuhkan dana besar untuk bahan makanan, sewa lokasi, alat produksi, hingga kru yang membantu. Di balik video berdurasi 15–30 menit yang terlihat “seru dan heboh”, ada hari-hari panjang yang dihabiskan untuk persiapan.

Bobon membangun kanalnya dengan karakter yang kuat: apa adanya, blak-blakan, dan penuh energi. Ia tidak tampil dengan citra yang dibuat-buat. Justru kejujuran dan kesederhanaannya itulah yang membuat banyak penonton merasa dekat.

Konten Besar, Biaya Besar

Salah satu alasan utama di balik rencana penjualan kanalnya adalah beban produksi yang semakin berat. Konten berskala besar berarti biaya besar. Setiap episode bisa menghabiskan dana yang tidak sedikit. Di saat yang sama, monetisasi dari platform tidak selalu sebanding dengan pengeluaran.

Algoritma YouTube terus berubah. Persaingan semakin ketat. Kreator harus memikirkan engagement, retensi penonton, judul, thumbnail, hingga waktu unggah. Untuk konten seperti Bobon yang berbasis proyek besar, risiko kerugian juga tinggi. Jika satu video tidak perform sesuai harapan, biaya produksi tetap tidak bisa kembali sepenuhnya.

Selain biaya finansial, ada juga biaya emosional dan fisik. Proses memasak dalam jumlah besar bukan hanya melelahkan, tetapi juga menyita waktu pribadi. Jam kerja panjang, tekanan untuk konsisten, dan ekspektasi penonton menjadi beban tersendiri.

Dalam jangka panjang, kelelahan seperti ini bisa menumpuk. Apa yang awalnya dilakukan dengan semangat, perlahan berubah menjadi tekanan.

Fenomena Clipper dan Rasa Ketidakadilan

Alasan lain yang cukup menyentil adalah fenomena clipper. Di era konten pendek seperti Shorts, Reels, dan TikTok, banyak akun yang mengambil potongan video dari kreator besar, mengeditnya menjadi format singkat, lalu mengunggah ulang.

Beberapa di antaranya memang mencantumkan kredit. Namun tidak sedikit yang sekadar memanfaatkan momentum tanpa kontribusi nyata. Potongan adegan paling dramatis atau lucu dari video panjang Bobon bisa dengan cepat viral dalam format 30–60 detik.

Ironisnya, akun-akun seperti ini kadang meraih jutaan views dengan usaha yang jauh lebih kecil. Mereka tidak mengeluarkan biaya produksi, tidak memasak, tidak membagi makanan, tidak mengatur logistik-hanya mengedit ulang dan mengunggah.

Bagi kreator yang berinvestasi besar dalam konten, fenomena ini bisa terasa tidak adil. Bukan semata soal uang, tetapi soal apresiasi terhadap proses.

Bobon disebut merasa kalah bukan dalam arti kualitas, tetapi dalam ekosistem perhatian. Konten panjang yang dibuat dengan kerja keras bisa kalah cepat oleh potongan singkat yang lebih mudah dicerna. Ini menggambarkan perubahan pola konsumsi penonton di era digital: serba cepat, ringkas, dan instan.

Rp20 Miliar Angka dan Simbol

Angka Rp20 miliar tentu bukan angka kecil. Nilai tersebut merepresentasikan akumulasi subscriber, view, brand value, dan potensi monetisasi jangka panjang. Kanal YouTube dengan jutaan pengikut bukan sekadar akun media sosial-ia adalah aset digital.

Menjual kanal berarti melepaskan identitas yang telah dibangun bertahun-tahun. Itu bukan keputusan yang diambil secara impulsif. Kemungkinan besar, ada pertimbangan matang di baliknya: apakah lebih baik mempertahankan kanal dengan beban besar, atau mengubahnya menjadi aset finansial dan memulai fase hidup baru?

Dalam industri digital global, jual beli akun atau brand bukan hal baru. Banyak kreator yang akhirnya menjual brand mereka kepada perusahaan atau investor ketika merasa ingin beralih fokus. Namun di Indonesia, langkah seperti ini masih jarang terdengar secara terbuka, apalagi dengan nilai sebesar itu.

Vakum Bukan Berarti Menyerah

Keinginan untuk vakum sering kali disalahartikan sebagai menyerah. Padahal, dalam banyak kasus, itu justru bentuk kesadaran diri. Dunia kreator konten dikenal penuh tekanan. Konsistensi adalah kunci, tetapi konsistensi tanpa jeda bisa menguras energi.

Bobon disebut ingin beristirahat karena sudah terlalu capek. Kata “capek” mungkin terdengar sederhana, tetapi maknanya dalam. Ia mencakup kelelahan fisik, mental, dan emosional. Ketika passion bertemu dengan tuntutan industri, batas antara hobi dan pekerjaan menjadi kabur.

Vakum bisa menjadi ruang untuk refleksi. Apakah ingin kembali dengan konsep baru? Apakah ingin berpindah platform? Atau justru ingin fokus pada kehidupan pribadi dan bisnis di luar dunia digital?

Realitas Industri Konten Saat Ini

Kisah Bobon mencerminkan dinamika industri kreator di era sekarang. Platform memberi peluang besar, tetapi juga menciptakan kompetisi ekstrem. Kreator dituntut untuk terus relevan. Algoritma tidak mengenal lelah.

Di sisi lain, konsumsi konten semakin bergeser ke format pendek. Perhatian audiens menjadi komoditas langka. Video panjang membutuhkan komitmen waktu dari penonton, sementara konten pendek menawarkan hiburan instan.

Perubahan ini memaksa kreator untuk beradaptasi. Tidak semua bisa atau ingin mengikuti arus. Kreator dengan konsep besar dan mendalam sering kali menghadapi tantangan lebih berat dibanding pembuat konten instan.

Dukungan dan Reaksi Publik

Kabar rencana penjualan kanal tentu memicu reaksi beragam. Ada yang menyayangkan, ada yang memahami. Banyak penggemar yang merasa kehilangan jika benar-benar terjadi. Namun tidak sedikit pula yang mendukung keputusan tersebut jika itu demi kesehatan dan kebahagiaan pribadi.

Pada akhirnya, di balik layar, kreator adalah manusia biasa. Mereka memiliki batas energi, keluarga, dan kehidupan di luar kamera.

Lebih dari Sekadar Konten

Apa pun keputusan akhirnya, perjalanan Bobon Santoso telah meninggalkan jejak. Ia menunjukkan bahwa konten kuliner bisa dikemas dengan nilai sosial. Ia membuktikan bahwa skala besar bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Jika kanal itu benar-benar terjual, yang berpindah tangan hanyalah akun dan angka. Identitas, pengalaman, dan pelajaran tetap melekat pada dirinya.

Mungkin ini bukan akhir, melainkan transisi. Dunia digital terus berubah, dan kreator pun berevolusi. Bisa jadi, setelah vakum, ia akan kembali dengan format berbeda-lebih sederhana, lebih personal, atau bahkan di luar YouTube.

Rencana menjual kanal YouTube senilai Rp20 miliar bukan sekadar isu finansial. Ia adalah refleksi tentang tekanan industri, perubahan perilaku audiens, dan kelelahan kreator di balik layar.

Bobon Santoso berdiri di persimpangan: mempertahankan mesin konten yang melelahkan atau menutup satu bab dan membuka yang baru. Apa pun pilihannya, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka subscriber dan jutaan views, ada manusia yang bekerja keras-dan juga bisa lelah.

Industri digital mungkin bergerak cepat, tetapi kesehatan dan keseimbangan hidup tetap lebih penting. Dan mungkin, justru dari jeda itulah lahir bab berikutnya yang lebih segar dan bermakna.